Pameran Foto “Yves Saint Laurent, The Birth of A Legend”

Jakarta, 27 Maret 2017 - Institut Prancis di Indonesia (IFI) bekerja sama dengan L’Oréal Indonesia dan Plaza Indonesia menggelar pameran fotografi bertajuk ‘YSL, The Birth of A Legend’ di koridor La Moda Plaza Indonesia Jakarta pada 27 Maret sampai 8 April.

Atase Kebudayaan Kedubes Prancis di Indonesia Bapak Christian Gaujac dalam sambutannya mengatakan, “Kami mewakili Institut Prancis di Indonesia sangat bangga dapat mempersembahkan kepada masyarakat Jakarta, sebuah sudut pandang berbeda dalam melihat karya sang desainer Prancis Yves Saint-Laurent. Setelah dipamerkan di Surabaya, Bandung dan Yogyakarta, kini saatnya warga Jakarta menikmati 49 foto karya fotografer kelas dunia, Pierre Boulat yang menguak persiapan koleksi perdana YSL dengan pendekatan yang akrab dan menyentuh”

Pada pameran foto “YSL, The Birth of A Legend” di Jakarta, IFI bekerja sama dengan L’Oréal Indonesia dan Plaza Indonesia. “Selama lebih dari satu abad, L’Oréal telah berfokus pada dunia kecantikan. Kerjasama ini merupakan salah satu bentuk komitmen kami dalam mewujudkan misi dalam membagikan keindahan bagi setiap individu. Oleh karena itu, merupakan sebuah kehormatan bagi L’Oréal Indonesia dapat menjadi bagian dari pameran foto yang menceritakan perjalanan lahirnya desainer dunia, Yves Saint Laurent. Sejak tahun 2008, L’Oréal telah mengakuisisi YSL Beauté dan telah menjadi salah satu merek utama yang saling melengkapi 32 merek internasional lainnya, khususnya di L’Oreal luxury division,” ucap Melanie Masriel selaku Head of Communications L’Oréal Indonesia.

Sebanyak 49 foto karya fotografer Prancis, Pierre Boulat, berkisah tentang karya kreatif, kegelisahan sekaligus kebahagiaan sang perancang adibusana Yves Saint Laurent dalam persiapan koleksi perdana rumah modenya pada tahun 1961. Melalui jepretan Pierre Boulet inilah kita dapat menemukan rahasia-rahasia dan peristiwa di balik layar karya pertama rumah mode Yves Saint Laurent yang dijuluki sebagai “seorang jenius baru dunia mode” oleh Editor Fesyen majalah Life saat itu, Sally Kirkland.

Setelah keluar dari rumah mode Christian Dior, Yves Saint Laurent di usianya yang baru 21 tahun bersiap melakukan revolusi dalam dunia mode dengan pendekatan modern. Sang desainer muda merancang adibusana yang membuat perempuan terlihat menarik namun tetap menghormati tubuh, gerakan dan gesturnya.

Di tahun 1960-an di mana tidak lazim bagi perempuan mengenakan celana panjang, Yves Saint Laurent justru mengeluarkan rancangan yang keluar dari ‘pakem’ zaman yaitu pantsuit, gaun mondrian dan tuksedo untuk perempuan yang memukau karena keunikan dan gayanya yang avant-garde. Dalam balutan karyanya, perempuan tetap dapat tampil dengan sentuhan maskulin tanpa meninggalkan sisi kenyamanan dan keanggunan mereka.

Lahir pada tahun 1936 di Oran, Aljazair, Yves Saint Laurent adalah desainer yang berkomitmen untuk membumikan fesyen. Ia desainer pertama yang memproduksi gaun siap pakai yang dapat dikenakan tidak hanya oleh perempuan ningrat tetapi oleh masyarakat umum. Langkah revolusionernya di bidang mode juga ditandai dengan menjadi desainer pertama yang karyanya dikenakan oleh para model berkulit hitam.

Kegelisahan dan keseruan di balik persiapan pertunjukan perdana adibudaya karyanya dapat kita telusuri melalui foto-foto bidikan sang fotografer kelas dunia, Pierre Boulat.